Senin, 04 Mei 2009

Tentang CUKO

CUKO Pempek

Dipalembang Cuka cair berwarna hitam ini biasa disebut dengan CUKO, pempek yang enak akan makin terasa lezat dengan paduan cuko yang pas, sayang sekali jika pempek yang enak tsb menjadi kurang cita rasanya hanya karena rasa cukonya.
CUKO terbuat dari cabe + gula merah/gula batok + gula pasir + garam, untuk memberikan rasa asam bisa menggunakan air asam/air jeruk tetapi karena alasan praktis dan lebih murah dari segi harga biasa CUKO ini dicampur dengan menggunakan cuka meja/cuka dapur
Rasa mantap CUKO juga dipengaruhi gula merah/gula batok yang digunakan, Gula merah/gula batok yang biasa digunakan untuk membuat CUKO dipalembang berasal dari Lahat atau Linggau

CUKO Kering

CUKO kering ini sama dengan cuko biasa hanya saja pada saat pembuatannya komposisi airnya lebih sedikit dibanding cuko yang langsung siap saji.

  • Kelebihan cuko kering ini adalah cuko menjadi lebih awet dan praktis untuk dibawa atau dikirim karena akan lebih ringan, apalagi kalau untuk pengiriman, tentu ongkos kirim akan menjadi lebih murah dan cuko yang didapat juga lebih banyak, karena berdasarkan pengalaman dari PAKET PEMPEK banyak customer yang meminta supaya bisa di kirim CUKO yang lebih banyak, tapi karena pertimbangan tsb. Diatas, PAKET PEMPEK hanya bisa mengirimkan CUKO secukupnya.
  • Kekurangannya cuko kering ini yaitu CUKO harus diolah kembali sebelum siap disajikan, tetapi sebenernya pengolahannya tidak terlalu sulit, CUKO kering ini cukup dicampur dengan air yang dianjurkan dan dimasak sampai mendidih setelah dingin disaring dan CUKO pun siap disajikan.

Bagaimana? Sebaiknya PAKET PEMPEK memberikan CUKO Kering atau CUKO yang sudah jadi, semua kembali ke customer.

Selain sebagai teman pempek, CUKO juga bisa digunakan sebagai teman makan krupuk, tahu goreng, emping, mau dicoba?

Pempek makanan khas Palembang ini ternyata ada sejarahnya dan saya yakin belum banyak orang yang mengetahui sejarah pempek ini, saya sebagai seorang kelahiran Palembang pun baru tau asal usul pempek setelah membaca tulisan dibawah ini :
PALEMBANG sebagai kota yang dialiri Sungai Musi, sejak dulu menjadi persinggahan bagi para pedagang dari berbagai negara, antara lain dari etnik Tionghoa. Tidak hanya singgah untuk berdagang, beberapa di antara mereka memutuskan untuk menetap, dan memulai kehidupan baru di kota ini. Mereka banyak mendiami daerah Kampung Keraton, yang sekarang termasuk bilangan Kampung Masjid Agung dan Masjid Lama. Warga etnik Tionghoa mencari penghidupan tetap di Kota Palembang dengan cara berdagang. Dahulu, dalam ucapara adat tertentu, mereka menyajikan makanan berbahas dasar ikan dan sagu untuk keperluan adat. Baru pada 1916, penganan itu dijual oleh seorang keturunan Tionghoa bernama Sipek. Ia menjajakan dagangannya degan berkeliling. Makanan ini laris dan sangat disukai, sayangnya makanan ini belum memiliki nama. Anak-anak muda yang selalu menunggu Sipek lewat, dengan tidak sabat memanggil Sipek begitu melihatnya di kejauhan, ”Pek, Pek, Sipek, mampir sini.” Mereka berharap Sipek cepat-cepat menghampiri saat mendengar panggilan mereka. Orang-orang lalu menyebut makanan tidak bernama itu Sipek, sesuai dengan nama penjualnya. Namun, lama-kelamaan pengucapannya berubah menjadi pempek atau empek-empek. Pempek ini dikenal sebagai makanan khas Palembang. Dengan bahan dasar yang sama, pempek berkembang menjadi berbagai macam jenis. Ada pempek telok, pempek lenjer, pempek ada’an, pempek kulit, pempek panggan dan lainnya. Setidaknya ada lebih dari 12 jenis pempek saat ini. Pempek biasa disajikan dengan saus kental cokelat serupa kecap yang disebut cuka. Cuka merupakan hasil olahan dari asam jawa, gula merah, cabai, cuka putih, bawang putih dan lain-lain.
Sumber : MEDIA INDONESIA (www.forumbudaya.org)

Cukup menarik kan dari seorang pedagang yang bernama SIPEK pempek ini menjadi makanan khas Palembang, bahkan disukai sampai keluar kota Palembang.
Pesan, Kesan,
Kritik dan Saran
untuk Paket Pempek

VISITORS