Sabtu, 28 Maret 2009

Tentang Pempek

Pengenalan

Pempek, makanan khas Palembang ini sudah tidak asing karena sekarang sudah bisa didapat dimana saja, yang membedakan hanya harga, rasa dan kwalitas.Pempek terbuat dari daging ikan. Ada beberapa jenis ikan yang biasa diolah menjadi pempek seperti ikan belida, ikan gabus dan ikan tenggiri, diperlukan teknik khusus untuk mengolah daging ikan ini supaya bisa dihasilkan tekstur pempek yang lembut.
Penggunaan bahan ikan dan jenis sagu yang tidak tepat juga bisa berakibat pempek yang dihasilkan terlalu keras atau terlalu lembek, berwarna agak gelap atau agak hitam setelah direbus.

Cuka, rasanya yang asam, manis dan pedas bener2 menjadi paduan yang pas untuk menikmati pempek

Pempek Sebagai Cemilan Sehat

Jadikan pempek sebagai cemilan sehat untuk anda dan keluarga.
Penggunaan pengawet supaya pempek bisa tahan lebih lama atau bahan pemutih supaya pempek terlihat lebih putih atau bahan pelembut supaya pempek menjadi lebih lembut, jika dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu tidak terlalu baik untuk kesehatan.
Cuka yang dibuat dengan menggunakan campuran cuka cair atau cuka makan selain dapat merusak gigi juga dapat berakibat pada lambung .

Tips N Solusi

Untuk menghasilkan Tekstur pempek yang lembut , jangan mengaduk terlalu lama pada saat daging ikan dan sagu sudah tercampur. Untuk pempek yang lebih putih, gunakan daging ikan bagian yang putih jangan tercampur darah atau kulit ikan, gunakan sagu khusus untuk pempek biasanya dipalembang terkenal dengan sagu tani dan lakukan proses penyaringan 2x untuk merebus pempek.
Supaya Cuka bisa berwarna hitam pekat gunakan gula merah khusus dari lahat atau linggau,

untuk mendapatkan rasa asam pada cuka bisa dengan menggunakan campuran air asam (asam jawa) atau jeruk sambal dan biarkan adonan cuka tercampur kira-kira 1-2 jam sebelum siap disajikan.

Pastikan pempek dan cuka yang anda konsumsi aman dan tidak berbahaya untuk kesehatan

Pempek makanan khas Palembang ini ternyata ada sejarahnya dan saya yakin belum banyak orang yang mengetahui sejarah pempek ini, saya sebagai seorang kelahiran Palembang pun baru tau asal usul pempek setelah membaca tulisan dibawah ini :
PALEMBANG sebagai kota yang dialiri Sungai Musi, sejak dulu menjadi persinggahan bagi para pedagang dari berbagai negara, antara lain dari etnik Tionghoa. Tidak hanya singgah untuk berdagang, beberapa di antara mereka memutuskan untuk menetap, dan memulai kehidupan baru di kota ini. Mereka banyak mendiami daerah Kampung Keraton, yang sekarang termasuk bilangan Kampung Masjid Agung dan Masjid Lama. Warga etnik Tionghoa mencari penghidupan tetap di Kota Palembang dengan cara berdagang. Dahulu, dalam ucapara adat tertentu, mereka menyajikan makanan berbahas dasar ikan dan sagu untuk keperluan adat. Baru pada 1916, penganan itu dijual oleh seorang keturunan Tionghoa bernama Sipek. Ia menjajakan dagangannya degan berkeliling. Makanan ini laris dan sangat disukai, sayangnya makanan ini belum memiliki nama. Anak-anak muda yang selalu menunggu Sipek lewat, dengan tidak sabat memanggil Sipek begitu melihatnya di kejauhan, ”Pek, Pek, Sipek, mampir sini.” Mereka berharap Sipek cepat-cepat menghampiri saat mendengar panggilan mereka. Orang-orang lalu menyebut makanan tidak bernama itu Sipek, sesuai dengan nama penjualnya. Namun, lama-kelamaan pengucapannya berubah menjadi pempek atau empek-empek. Pempek ini dikenal sebagai makanan khas Palembang. Dengan bahan dasar yang sama, pempek berkembang menjadi berbagai macam jenis. Ada pempek telok, pempek lenjer, pempek ada’an, pempek kulit, pempek panggan dan lainnya. Setidaknya ada lebih dari 12 jenis pempek saat ini. Pempek biasa disajikan dengan saus kental cokelat serupa kecap yang disebut cuka. Cuka merupakan hasil olahan dari asam jawa, gula merah, cabai, cuka putih, bawang putih dan lain-lain.
Sumber : MEDIA INDONESIA (www.forumbudaya.org)

Cukup menarik kan dari seorang pedagang yang bernama SIPEK pempek ini menjadi makanan khas Palembang, bahkan disukai sampai keluar kota Palembang.
Pesan, Kesan,
Kritik dan Saran
untuk Paket Pempek

VISITORS